The Biara Tashilhunpo, terletak di Shigatse, Tibet, adalah pusat kuno Buddhisme Tibet yang telah aktif melayani para pengikutnya sejak akhir abad ke-15. Didirikan oleh Dalai Lama pertama, Gyalwa Gedun Drupa, biara ini telah menjadi pusat spiritual penting selama berabad-abad.
Sebagai salah satu dari enam biara besar aliran Gelug dalam agama Buddha Tibet, biara ini sangat dihormati atas sumbangannya di bidang keagamaan dan budaya.
Saat ini, biara ini terus menjunjung tinggi ajaran dan praktik tradisionalnya dan dikunjungi oleh ribuan orang setiap tahunnya. Dengan arsitekturnya yang memukau dan sejarahnya yang kaya, kunjungan ke Biara Tashilhunpo adalah suatu pengalaman yang sangat memikat secara visual dan mendalam secara spiritual.
Warisan spiritual biara
Biara aliran Gelug ini merupakan salah satu dari enam biara Tibet yang berpengaruh, di mana Anda dapat melihat para biksu mengenakan jubah tradisional, jubah kuning, dan topi kuning yang mencolok. Para pemula, yang dikenal sebagai "getsul", dapat ditahbiskan menjadi "gelong" jika mereka telah mempelajari dan menguasai aturan-aturan monastik.
Menjadi seorang “geshe” (mentor spiritual) sangatlah sulit, membutuhkan lima belas hingga dua puluh tahun kerja keras dan latihan – hanya sedikit yang berhasil.
Karya-karya Tsongkhapa, teks-teks Mahayana tradisional, serta ajaran Atisha dan Nagarjuna membentuk landasan praktik spiritual. Namun, dinding-dinding Biara Tashilhunpo menyimpan kitab suci yang bahkan lebih misterius – ajaran-ajaran agung Shambhala, tanah para resi dan petapa spiritual, tersembunyi di pegunungan Himalaya.

Tashilhunpo adalah kuil utama untuk menghormati alam mistis ini dan kebijaksanaannya. Misteri Shambhala sering dianggap sebagai utopia yang jauh dan hilang di balik puncak-puncak gunung. Namun, perspektif lain menyatakan bahwa bahkan tanah yang paling murni pun dapat diakses melalui alam batin seseorang. Shambhala dianggap sebagai alam metafisik, sebuah kesadaran yang lebih tinggi yang dapat diakses melalui praktik-praktik spiritual.
Di Biara Tashilhunpo, ajaran Kalacakra ("Roda Waktu") dari Atisha dijaga, yang berkaitan erat dengan legenda Shambhala. Pada tahun 1775, Panchen Lama ke-3, Lobsang Palden Yeshe, menulis sebuah risalah, "Istria Aryadesha dan Jalan Menuju Shambhala, Tanah Suci," yang menguraikan sebuah sadhana (praktik spiritual) untuk membantu makhluk-makhluk welas asih mencapai pencerahan.
Struktur dan Pemandangan Biara Tashilhunpo
Biara yang dibangun dengan megah ini terletak di kaki bukit Drolmari (Gunung Tara). Membentang seluas 300,000 meter persegi, biara ini memancarkan gaya tradisional Tibet. Kompleks ini merupakan labirin aula, kapel, makam, dan jalan berbatu dengan atap emas dan dinding putih, merah, dan hitam, membentuk komposisi yang indah.
Biasanya, para peziarah yang mengunjungi tempat-tempat suci biara berjalan menyusuri kora mendaki lereng gunung hingga mencapai biara. Biasanya dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menjelajahi seluruh kompleks. Di sepanjang jalan setapak, terdapat roda-roda doa yang terukir mantra Avalokiteshvara, yang memungkinkan pengunjung untuk memberikan penghormatan dengan melakukan ritual memutar.
Atraksi Utama Biara Tashi Lhunpo
1. Patung Maitreya
Emas kolosal Maitreya patung adalah kebanggaan biara. Pada tahun 1915, sebuah kuil bernama Jumbo Chenmo didirikan untuk menampung patung tersebut, yang dibangun dari tahun 1914 hingga 1918 di bawah pengawasan Panchen Lama Kesembilan. Dikatakan bahwa setelah wafatnya Panchen Lama Kesembilan pada tahun Provinsi QinghaiPatung Maitreya yang penuh kasih terlihat menangis tersedu-sedu dengan tetesan emosi mengalir di wajahnya. Kabarnya, semua lama yang hadir di biara tersebut membenarkan kejadian ini.
Sebanyak 110 pengrajin yang mengagumkan menciptakan patung Buddha setinggi 26 meter ini, sebuah bukti gemilang akan kehebatan keahlian mereka. Terbuat dari 230 ton kuningan dan 560 kilogram emas, serta dihiasi 300 mutiara dan 32 berlian, patung ini berkilauan dengan batu-batu mulia.
Sebuah simbol matahari raksasa, terbuat dari permata yang sama, terletak di depan patung. Jubah sutranya merupakan yang terbesar di dunia, dan singgasana teratainya terinspirasi dari Eropa. Singgasana tersebut diisi dengan biji-bijian olahan, sementara tubuh patung dipenuhi dengan figur Buddha mini, sutra, dan permata. Selain itu, banyak lampu berisi minyak yak ditempatkan di depan patung, sebagai tanda penghormatan dan penghormatan kepada Buddha di masa depan.

2. Lukisan Dinding
Biara Tashi Lhunpo yang tersohor terkenal akan tradisi seninya yang unik. Banyak aulanya mengusung gaya eklektik 'Menri Baru' yang muncul pada tahun 1600-an, perpaduan konvensi seni lukis India dan Tiongkok. Ciri khas gaya ini, yang hanya dimiliki oleh sekolah seni Tashilhunpo, meliputi:
Keagungan gunung, kedamaian air, dan cahaya lingkaran cahaya disorot oleh warna biru dan hijau yang cerah, sementara kilauan emas menarik perhatian pada keindahan pemandangan.
Pengaruh Tiongkok dapat dilihat pada alam yang subur, awan yang lembut, kuil, sungai, dan air terjun, serta hewan dan burung yang tersebar di mana-mana.
Setiap elemen dibuat dengan rumit, sementara figur dewa dan makhluk tercerahkan lainnya digambarkan secara alami dan santai; kurangnya simetri dan ketenangan yang halus membedakan Menri Baru dari gaya Tibet lainnya.
Jubah para tokoh dihiasi dengan desain bunga yang anggun, dan pakaiannya luas dan penuh gerakan.
Kepala naga menghiasi singgasana, dan bagian belakang perabotan yang melengkung menambah pesonanya.
3. Dinding Thangok
Menatap pintu masuk biara Tashi Lhunpo yang mencolok, kita dapat melihat menara-menara berwarna cokelat keemasan dengan atap emas di atasnya. Menjulang di atas tembok, terdapat menara putih setinggi 9 lantai, kontras yang mencolok dengan lingkungan sekitarnya. Dibangun oleh Dalai Lama Pertama pada tahun 1468, kompleks ini menjadi tempat diselenggarakannya salah satu festival paling terkenal di Tibet, Buddha Matahari.
Diselenggarakan dari tanggal 14 hingga 16 bulan lunar kelima dalam kalender Tibet, acara ini menampilkan sebuah thangka raksasa, dengan panjang 45 meter dan lebar 29 meter. Thangka ini menggambarkan Buddha masa lalu, masa kini, dan masa depan, yang dipajang perlahan di dinding, diiringi alunan lembut alat musik tiup.
4. Aula Pertemuan
Melangkah ke Aula Pertemuan Tashilhunpo bagaikan menyusuri masa lampau. Balok-balok kayunya yang megah dan kain-kainnya yang berhias menjadikannya sebuah mahakarya sejarah yang fantastis, sementara kekayaan relik ritualnya menjadikannya pengalaman yang luar biasa.
5. Aula Sutra
Aula sutra adalah benteng biara tempat Gedun Drupa, sang pendiri, mendirikan percetakan kuno untuk menerjemahkan naskah-naskah asli Sansekerta dengan indah. Mereka mengukir lebih dari 10,000 papan kayu dengan tafsir Tibet dari materi sumbernya. Papan-papan tersebut kemudian digunakan untuk membuat cetakan tinta di atas kertas – cara tradisional Tibet dalam memproduksi buku. Jika Anda berkunjung, Anda dapat membawa pulang bendera doa atau kalender suvenir yang baru dicetak di biara.

Kesimpulan
Biara Tashilhunpo Ini adalah tempat yang sungguh luar biasa, kaya akan sejarah dan budaya. Tempat ini menawarkan kesempatan unik bagi pengunjung untuk mempelajari Buddhisme Tibet, mengamati keindahan arsitektur kuno Tibet, dan mengagumi artefak suci yang tersimpan di balik dindingnya. Biara ini berdiri sebagai bukti ketangguhan masyarakat Tibet dan berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya melestarikan warisan budaya dan agama kita.
